Jumat, 24 November 2017
Home / Artikel / Love is Eternity

Love is Eternity

Penulis: Jessica Novia Wangsa Kencana (Alumni SMA Vianney)

Ketika Tuhan menghadiahkan aku nafas kehidupan, betapa bahagia aku menjadi bagian di dalam karyaNya. Karya agung yang menjadi karya di atas segala karya. Karya yang akan menjadi indah karena terberkati. Aku ini hanya seorang biasa yang diciptakan dengan bentuk dan rupa. Diciptakan di dalam keluarga yang baik, bersama dengan orangtua dan saudara-saudara.

Kini aku sudah mengenal arti kehidupan yang sebenarnya. Di mana ada cinta, di situ tidak pernah ada pengharapan dan tuntutan. Aku telah mengenal apa itu cinta, dan betapa banyak orang yang aku cintai. Tapi, di balik itu, aku pun telah mengenal kebencian dan kedengkian. Di situlah terletak semua kepura-puraan dan iri hati. Aku yakin, kalian berpendapat sama denganku, yaitu ingin mencintai dan dicintai, dan sama sekali tidak ingin membenci maupun dibenci.

Namun, dunia ini tidak pernah luput dari keduanya. kita hidup dengan segala kesempurnaan yang ada, termasuk merasakan apa yang dinamakan kebencian, dan bukan hanya cinta pembawa kebahagiaan. Ketika kita mengalami keterpurukkan, saat itulah sebenarnya kita merasakan adanya kebencian, baik dari orang lain, maupun dari beberapa penyebab dan hal – hal yang seakan memusuhi kita.

Kita akan bertanya-tanya “mengapa harus aku?” dan tidak akan ada yang pernah bisa menemukan jawabannya. Yang pasti, semua orang akan mengalaminya, dan tak akan pernah bisa menghindarinya. Ketika mereka memaki diriku, saat itulah aku diuji. Apakah aku jatuh dan melarikan diri, ataukah aku akan tetap bangkit dan bertahan?

Ingatlah bahwa kita hidup sebagai manusia yang mempunyai dua arah, yaitu kanan dan kiri. Ketika orang-orang di sebelah kiriku menyakiti aku, aku tidak boleh menjadi terpuruk dan mengabaikan orang-orang yang berada di sebelah kananku, yang amat menginginkan hadirku dan menyayangiku dengan tulus. Aku harus bisa berdiri dan biarkan semua yang harus terjadi dan memasrahkan diri kepada Tuhan.

Aku memang tidak dapat menerima begitu saja segala makian yang aku terima, dan air mata ini seakan menjadi temanku untuk bercerita. Tapi, aku harus berusaha menganggap ini semua sebagai suatu ujian, di mana akan tiba waktunya, mereka dapat menerimaku dan dapat mencintai aku dengan tulus. Aku bukan malaikat, dan aku jelas bukan lah seorang pahlawan. Dan aku pun tidak sekuat besi yang tidak hancur jika dipatahkan. Aku hanya manusia biasa. Sangat biasa.

Suatu hari, entah kapan pun, aku hanya pasrah dan percaya, bahwa segala bentuk kesabaran dan cinta yang aku bawa akan menghasilkan sesuatu yang baik untuk semuanya. Aku tidak meminta kamu, kalian, ataupun mereka untuk membagikan cinta dan sayang untukku, tetapi aku hanya ingin diijinkan untuk mencintai setiap orang yang berada di dekatku. Karena hanya dengan cinta dan ketulusan, aku bisa merasakan betapa bahagianya hidup di dunia ini.

Hidup ini, CINTA.. LOVE is ETERNITY.. ♥

(Juara 1 lomba artikel se-Jakarta, VGI’s competition 2008)